Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sejarah Karang Hawu

Inisukabumi.com - Sahabatku, bagaimana nih kabarnya? Smoga senantiasa selalu dalam keadaan sehat ya. Di artikel kali ini saya mau sedikit mengulas tentang alasan dinamakannya Pantai Karang Hawu. Karena mungkin sahabat tahunya Pantai Karang Hawu itu adalah salah satu pantai indah yang Ada di Sukabumi, tanpa sahabat mengetahui kenapa pantai ini diberi nama Pantai Karang Hawu.
Pantai Karang Hawu
Pantai Karang Hawu
Sebelumnya, apakah sahabat-sahabat tahu apa itu yang namanya "Hawu"? Hawu berasal dari kata awu (bahasa Jawa) yang berarti abu, sedangkan abu dalam bahasa Sunda disebut lebu. Jadi hawu adalah tempat terkumpulnya abu atau lebu. Pada masyarakat Sunda terdapat tiga jenis hawu, pertama adalah bentuk hawu yang dibuat secara sederhana, dengan hanya menumpuk bata merah yang digunkan sebagai tungku. Hawu ini tidak kokoh sebab tidak dilapisi oleh adonan tanah liat sebagai perekatnya, sehingga mudah ambruk kalau terkena benturan. Jenis hawu kedua adalah hawu yang terbuat dari gerabah. Bentuknya sama seperti hawu biasa, tapi mempunyai dua lubang tempat memasak yang berjejer ke belakang atau ke samping. Hawu ini dilapisi oleh adonan tanah liat sehingga tidak mudah ambruk atau retak. Jenis hawu ketiga adalah hawu yang terbuat dari batu yang diberi lobang dibagian dalam dan juga atasnya. untuk lebih jelasnya sahabat bisa melihat gambar dibawah ini :
Seperti inilah salah satu bentuk Hawu via ciburuan.wordpress.com 
Sekarang sahabat sudah tahu kan yang seperti apakah hawu tersebut. Nah barulah saya akan sedikit menjelaskan kenapa salah satu pantai di Sukabumi itu dinamakan Pantai Karang Hawu. Pemberian nama tersebut tidak asal begitu saja, melainkan diambil dari bentuk batuan pantainya yang mirip dengan hawu, karena memiliki lubang-lubang yang seperti lubang pada hawu. Sekarang coba sahabat perhatikan foto batuan di Pantai Karang Hawu berikut ini.

Batuan berlubang inilah yang diibaratkan seperti Hawu, sehingga pantai ini dinamakan Pantai Karang Hawu
Obak yang masuk kedalam lobang dari batu ini memberikan keunikan tersendiri

Pantai Karang Hawu Cisolok

Baik sahabatku, seperti itulah sedikit penjelasan kenapa pantai ini dinamakan Pantai Karang Hawu, semoga artikel saya kali ini bisa sedikit memberikan ilmu pengetahuan kepada sahabat pembaca semua. Sekian artikel saya kali ini, jangan lupa untuk terus berkunjung ke blog saya ini, karena saya akan terus berusaha memberikan informasi-informasi tentang Sukabumi.

Lokasi Pantai Karang Hawu

Lokasi pantai Karang Hawu dekat dengan kawasan wisata Pelabuhan Ratu yaitu terletak di Desa Cikakak, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Jika dari pusat kota Sukabumi berjarak sekitar 73 km.



Pencarian di Google:
lokasi pantai karang hawu, tiket masuk pantai karang hawu, sejarah karang hawu, pantai karang hawu cisolok, harga tiket masuk pantai karang hawu, karang hawu, video sejarah pantai pelabuhan ratu, karang hawu ,permai hotel,pantai karang hawu cisolok, karang hawu video, harga tiket masuk pantai karang hawu, karang hawu permai ,hotel sejarah pantai pelabuhan ratu, tempat wisata pantai pelabuhan ratu.

Gado Bangkong
Foto dari google :)
Ini Sukabumi - Sob, dulu sebelum saya datang langsung kesana, banyak pikiran dan khayalan tentang apakah dan bagaimanakah Gado Bangkong itu.
Ternyata begitu kesana, saya pun tahu Gado Bangkong itu seperti apa. 
Gado Bangkong terletak di Pusat Kota Pelabuhan Ratu, merupakan sebuah jembatan tua yang meenjorok ke laut, persis di belakang gedung Tourism Information Center (TIC).
Kondisinya sekarang memang begitu mengkhawatirkan, tiang betonnya sudah mulai rapuh, dinding batu mulai ambruk hampir memutus akses ke darat.

Di kawasan ini terdapat dermaga dan tempat penjualan ikan hasil tangkapan para nelayan. Pada dermaga ini wisatawan dapat menyaksikan jual beli dan belanja berbagai ikan segar dan ikan yang sudah dikeringkan.

Menengok kebelakang, keberadaan Gado Bangkong dari masa pendudukan Belanda sangatlah penting selain untuk docking kapal dagang dan kapal-kapal nelayan dari Bugis dsb. Di era tahun 1970-an karena akses jalan belumlah sebaik sekarang, warga luar Palabuhanratu seperti dari Jampang, Ciemas, maupun perbatasan Banten memanfaatkan Gado Bagkong untuk bongkar muat kapal barang kebutuhan pokok, dari mulai garam dan hasil panen seperti cengkeh, beras dan buah-buahan lainnya ke pasar Palabuhanratu yg letaknya berdekatan.(visitsukabumi.com)





Nara Sumber : Achmad Juniarto, Wikipedia
Penulis : Nunik Sumasni, Tangguh Sutjaksono, Ardiatmiko

Museum Palagan Bojongkokosan
Foto : Kaskus.co.id
Museum Palagan Bojongkokosan, terletak di Desa Bojongkokosan Kecamatan Parungkuda Kabupaten Sukabumi yang dikenal dengan nama Palagan Bojongkokosan. Tepatnya di Jalan Siliwangi No. 75, Desa Bojongkokosan, Kecamatan Parungkuda, Sukabumi.

Museum Palagan Bojongkokosan dibangun sebagai tanda penghargaan bagi para pahlawan yang gugur pada Peristiwa Bojongkokosan yang terjadi pada tanggal 9 Desember 1945, yaitu pertempuran antara para pejuang Sukabumi melawan tentara Inggris dan Nederlandsch Indie Civil Administratie (NICA).

Di dalam museum tersebut terdapat 4 (empat) buah vitrin, baling-baling dan kaca jendela pesawat serta foto nama-nama pahlawan yang gugur dalam Peristiwa Bojongkokosan. Ada juga tujuh buah maket yang menggambarkan tentang peristiwa di Bojongkokosan, mulai dari penyusunan kekuatan para pejuang sampai pemakaman Jenazah para pahlawan.

Pertempuran Bojongkokosan memang kalah terkenal jika di bandingkan dengan peristiwa tanggal 10 Nopember di Surabaya namun bagi masyarakat sekitar kejadian, lebih nyata karena masih ada beberapa saksi hidup yang mengalami langsung peristiwa tersebut yang tidak jemu-jemu menceritakan kembali kisah kepahlawanan tersebut kepada para generasi muda.

Sungguh membanggakan terutama bagi masyarakat Sukabumi khususnya, karena ternyata Sukabumi memiliki pejuang-pejuang yang tak kalah dengan daerah lainnya di Nusantara. Sayangnya peristiwa tersebut yang merupakan perang besar belum tercatat dalam sejarah nasional bangsa Indonesia. terbukti di buku-buku pelajaran para siswa, tidak ada yang secara spesifik menceritakan peristiwa Bojongkokosan.

Pembelajaran hidup yang perlu kita teladani dan dijadikan momentum untuk tetap memelihara jiwa dan semangat kepahlawanan pejuang-pejuang bangsa di daerah yang tak kalah heroik dengan semangat kedaerahannya.
Memang, banyak hal yang bisa dipelajari dari generasi pejuang di negeri tercinta Indonesia, antara lain semangat berjuang, keikhlasan, keteguhan hati, semangat pantang menyerah, keberanian, tidak mengejar imbalan dan seterusnya.

Kita generasi muda banyak berhutang kepada generasi pejuang. Generasi yang tidak membutuhkan pamrih, penghormatan dan fasilitas Negara. Karena berjuang memang butuh kesabaran dan pengorbanan baik harta maupun jiwa raga.

Sebuah tonggak sejarah perjuangan di tanah Cibadak, dimana puluhan pejuang dan ratusan rakyat yang dengan gagah berani memperjuangkan bangsa dan negara Indonesia dengan mempertaruhkan jiwa serta raganya. MERDEKA!!!



Nara Sumber : Achmad Juniarto, Wikipedia 
Penulis : Nunik Sumasni, Tangguh Sutjaksono, Ardiatmiko 

Bojongkokosan
Foto : Kaskus.co.id
Orang yang tidak tahu sejarah, tidak akan mengerti hari ini dan tidak memiliki konsep untuk masa depan” demikianlah kutipan pernyataan R.H. Eddie Soekardi selaku tokoh sejarah pada peristiwa pertempuran Bojongkokosan.

Peristiwa Bojongkokosan pada tanggal 9 Desember 1945 merupakan awal dari serangan-serangan yang disusun oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pimpinan Letnan Kolonel Eddie Sukardi. Peristiwa tersebut kemudian menjadi pemicu awal dalam peristiwa yang dikenal dengan Perang Konvoy dan merupakan perang Konvoy pertama (The First Convoy Battle) tanggal 9 hingga tanggal 12 Desember 1945. Sedangkan Perang Konvoy kedua terjadi pada tanggal 10 hingga tanggal14 Maret 1946.

Penghadangan sepanjang 81 km mulai dari Cigombong, Bogor hingga Ciranjang, Cianjur, telah mengakibatkan banyak korban dari kedua belah pihak :
  •  Pihak sekutu, 50 orang meninggal, 100 orang luka berat dan 30 orang menyerah
  •  Pihak pejuang, 37 orang meninggal
Pertempuran melawan Sekutu di Gekbrong merupakan pertempuran yang pertama antara barisan Rakyat/Tentara Keamanan Rakyat (TKR) melawan tentara Inggris (Sekutu) di daerah Sukabumi yang telah menyisakan rasa penasaran bagi para pejuang karena belum berhasil mengalahkan pihak Sekutu.

Kesempatan untuk menggempur musuh terbuka pada tanggal 2 Desember 1945 di Desa Bojongkokosan. Di desa tersebut terjadi dua kali pertempuran. Pertempuran pertama tidak menimbulkan banyak korban tetapi pertempuran ke dua, Minggu tanggal 9 Desember 1945, merupakan pertempuran yang menggemparkan dunia, karena banyaknya korban yang gugur dari pihak tentara Inggris (sekutu).

Pertempuran Bojong Kokosan adalah pertempuran yang terjadi saat iring-iringan tentara Inggris (Sekutu) ketika hendak memperkuat pasukannya di Bandung, disergap oleh para pejuang Indonesia di Bojongkokosan, Sukabumi.

Para pejuang menyebutkan bahwa pasukan Sekutu yang hendak menuju Bandung, hanya terdiri dari ratusan tentara dan dikawal oleh tank jenis Stuart serta persenjataan modern. Sekitar pukul 15.00,

Kendaraan pengawal iring-iringan tentara Inggris (Sekutu) terjebak lubang yang disiapkan oleh para pejuang di jalan yang diapit oleh dua tebing di Bojongkokosan.

Pasukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan rakyat Sukabumi menyergap iring-iringan tentara Inggris (sekutu). Tercatat, 50 tentara Inggris (sekutu) tewas, 100 terluka dan 30 lainnya hilang.
Peristiwa penyergapan tentara sekutu oleh para pejuang di desa Bojongkokosan memberi inspirasi dan menambah motivasi bagi para pejuang di Bandung dalam melawan tentara sekutu hingga akhirnya timbul peristiwa bersejarah lain yaitu “Bandung Lautan Api”.

Sementara di Inggris, terjadi kehebohan karena jumlah korban yang jatuh di pihak sekutu dianggap cukup besar dan salah satu yang tewas ada seorang perwira tinggi tentara kerajaan Inggris hingga terjadilah perdebatan di parlemen Inggris yang juga menarik perhatian dunia.

Akhirnya Inggris membalas perbuatan para pejuang tersebut dengan menugaskan angkatan udaranya untuk membombardir kawasan Cibadak dan Cisaat. Desa-desa di sekitar arena pertempuran yang ditinggalkan kemudian dibombardir oleh pasukan udara Kerajaan Inggris (Royal Air Force).

Ratusan rumah hancur, setelah Angkatan Udara Inggris (Royal Air Force) melakukan serangan balasan. Inggris (Sekutu) membombardir beberapa desa di Kompa, Parungkuda dan Cibadak hingga hancur dan rata dengan tanah.

Pada peristiwa pertempuran , 73 pejuang gugur dan nama para pejuang yang gugur, sebagian diabadikan dalam catatan di museum Bojongkokosan.

Berikut Kilas Balik Peristiwa Bojongkokosan :
.
Peristiwa Bojongkokosan berawal dari berita yang diterima oleh para pejuang Sukabumi di Pos Cigombong. Ada serombongan iring-iringan truk berisi tentara Inggris (sekutu) menuju Sukabumi. Mendengar berita tersebut, Kompi III pimpinan Kapten Murad dan Laskar Rakyat Sukabumi segera menduduki tempat pertahanan di pinggir (tebing) utara dan selatan jalan di Bojongkokosan.

Barisan pejuang yang terlibat dalam peristiwa Bojongkokosan diperkuat senjata rampasan dari tentara Jepang. Selain penghadangan laju kendaraan pasukan Sekutu dilakukan pasukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Laskar Rakyat seperti Barisan Banteng pimpinan Haji Toha, Hisbullah pimpinan Haji Akbar dan Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) langsung ikut bergabung.

Menjelang sore, iring-iringan tentara Inggris (sekutu) datang dari arah Bogor. Mereka diperkuat dengan puluhan tank, panser wagon dan truk berisi ribuan pasukan Gurkha. Iring-iringan tersebut masuk garis pertahanan Tentara keamanan Rakyat (TKR). Saat mendekati tebing Bojongkokosan, pejuang dan rakyat melepaskan tembakan. Pasukan Tentara keamanan Rakyat (TKR) dan Laskar Rakyat melakukan penyerangan secara sporadis.

Menyadari ada serangan, pasukan sekutu bersenjatakan peralatan perang modern melakukan pembalasan. Mereka membombadir pertahanan pejuang dengan tank baja dan senapan mesin. Balasan serangan sekutu membuat pertahanan pejuang menjadi sasaran lesatan peluru dan mortir.

Para pejuang berhasil lolos setelah beberapa jam melakukan penyergapan. Mereka meloloskan diri dari serangan balasan setelah hujan deras disertai kabut mengguyur kawasan tersebut.

Melihat pejuang berhasil lolos, pasukan Inggris (sekutu) marah dan menyerang dengan membabi buta. Karena tidak terima, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Laskar Rakyat kembali melakukan penyerangan terhadap iring-iringan tentara Inggris (sekutu) yang diboncengi oleh tentara Belanda.

Pertempuran kembali terjadi di sepanjang jalan Bojongkokosan hingga perbatasan Cianjur seperti Ungkrak, Selakopi, Cikukulu, Situawi, Ciseureuh hingga Degung. Pertempuran juga meluas hingga lintasan Ngaweng, Cimahpardi, Pasekon, Sukaraja, hingga Gekbrong di perbatasan Sukabumi-Cianjur.

Tentara sekutu yang dalam perjalanan ke Bandung dibuat gentar. Akhirnya komandan sekutu mengajak berunding dengan pemimpin Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan pemerintah setempat. Diwakili Komandan Resimen III, Letnan Kolonel (Letkol) Edi Sukardi, akhirnya disetujuilah usulan gencatan senjata.

Gencatan senjata berlangsung hanya sehari. Tentara sekutu melakukan tindakan tidak terpuji. Tepat tanggal 10 Desember 1945, tentara sekutu kembali membombardir Kecamatan Cibadak. Pengeboman tersebut tercatat dalam majalah Belanda Fighting Cocks karangan Kolonel Doulton. Serangan pesawat-pesawat tempur itu bahkan tercatat sebagai yang terbesar sepanjang Perang Dunia II. Sekutu melakukan pengeboman udara setelah mengetahui puluhan tetaranya tewas di tangan pejuang dan rakyat.


Eyang Dalem Suryadiningrat
Foto: Disparbud Jabar
Ini Sukabumi - Sob, selain wisata alam da wisata budaya, di Sukabumi juga ada tempat wisata religi, salah satunya Makam Eyang Dalem Suryadiningrat.

Makam Eyang Dalem Suryadiningrat terletak di Kampung Caringin, Desa Cikundul, Kecamatan Lembur Situ. Makam Eyang Dalem Suryadiningrat terletak di tengah kompleks makam umum seluas sekitar 620 m2. Letaknya yang berada di tepi utara jalan besar, Jalan Merdeka, menjadikan kompleks makam ini sangat mudah dijangkau. 
Jalan raya tersebut juga memisahkan wilayah Kampung Caringin dengan wilayah Kampung Bangbayang, Desa Cikundul. Di sebelah barat, utara, dan timur makam merupakan areal pemikiman warga Kampung Caringin. 

Dalam tradisi lokal Eyang Dalem Suryadiningrat merupakan keturunan Dalem Cikundul dari Cianjur. Dalem Cikundul merupakan sesepuh Kabupaten Cianjur. Beliaulah yang menurunkan Bupati-bupati Cianjur pada masa lampau. Eyang Dalem Suryadiningrat mempunyai nama lengkap seperti yang tertera pada papan nama makamnya adalah Eyang Dalem Suryadiningrat Aria Nudatar Sagara Herang (Eyang Cikundul). 

Makam Eyang Dalem Suryadiningrat berada di dalam areal berpagar. Makam ini telah mengalami renovasi yang dilakukan oleh warga.  Makam ditandai jirat berdenah segi empat dilapisi keramik warna hitam. Penanda lain adalah nisan di bagian utara jirat. Nisan berbentuk segi empat ini berisi nama yang dimakamkan. 

Makam ini cukup banyak didatangi oleh peziarah untuk berbagai keperluan. Sampai sekarang terdapat dua versi yang berkembang di masyarakat tentang makam tersebut. Versi pertama mengatakan, tempat ini dahulu adalah tempat peristirahatan Eyang Dalem Suryadiningrat Aria Nudatar Sagala Herang. Versi kedua mengatakan bahwa makam ini adalah makam pengawal Eyang Dalem Suryadiningrat
Sumber : Disparbud Jabar

Wisata Budaya Kabupaten Sukabumi

Ini Sukabumi - Sob, ada banyak sekali Wisata Budaya di Kabupaten Sukabumi yang berpotensi untuk menarik wisatawan, obyek wisata budaya tersebut adalah:
Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar adalah sebuah kampung adat yang mempunyai ciri khas dalam lokasi dan bentuk rumah serta tradisi yang masih dipegang kuat oleh masyarakat pendukungnya.Lokasinya berada di Kampung Sukamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, dengan titik Koordinatnya adalah 06 47` 10,4`` S, 106 29` 52 E

Sejumlah barang ditemukan di Situs Megalitik Cengkuk, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Penemuan ini menguatkan dugaan Cengkuk pernah menjadi pusat kebudayaan zaman megalitik yang terus berlanjut pada zaman logam.

Sebagai salah satu acara ritual masyarakat nelayan Palabuhanratu, inti dari pesta ini adalah persembahan rasa syukur atas segala rahmat yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Seren Taun, yang dilaksanakan setiap bulan Agustus, merupakan upacara peyerahan hasil bumi berupa padi yang diperoleh dalam kurun waktu satu tahun untuk disimpan di leuit . 

Secara geografis, Desa Sirnaresmi terletak di 6 48' 54" BT dan 106 33' 3" LS. Secara administrasi, Desa Sirnaresmi termasuk dalam Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat.

Secara administratif terletak di Kampung Tenjolaya Girang, Desa Cisaat, Kecamatan Cicurug. Situs ini terletak di lereng Gunung Salak di areal yang bergelombang. Secara astronomis terletak pada koordinat 645 09 LS dan 10644 39 BT.

-Situs Batu Bergores Kutajaya
Batu Bergores Kutajaya , secara administratif terletak di Kampung Kutajaya, Desa Kutajaya, Kecamatan Cicurug. 

-Situs Tugu Sukaraja
Secara administratif terletak di Kampung Tugu, Desa Pasirhalang, Kecamatan Sukaraja. Kampung ini terletak pada daerah perbukitan dengan permukaan tanah yang bergelombang. Secara astronomis terletak pada koordinat 655 02 LS dan 10658 33 BT. 

-Situs Tugu Gede
Secara administratif situs Tugu Gede terletak di Kampung Cengkuk, Kelurahan Margalaksana, Kecamatan Cikakak. Secara astronomis situs ini terletak pada koordinat 653 45 LS dan 10630 34 BT. 

-Upacara Labuh Saji
Upacara adat labuh saji merupakan tradisi turun-temurun nelayan Palabuhanratu untuk memberikan penghormatan kepada seorang putri bernama Nyi Putri Mayangsagara atas perhatiannya terhadap kesejahteraan nelayan.

-Kerajinan Batu Mulya
Sebagai barang berharga yang banyak diminati, saat ini Batu Aji tidak hanya berupa batu cincin saja tetapi juga dalam bentuk berbagai jenis barang, mulai dari perhiasan wanita, cinderamata, dan berbagai barang kerajinan lainnya.Lokasinya berada di Kawasan Sukaraja dengan titik Koordinatnya 654,657'S 10658,59'E

Kesenian hasil revitalisasi Anis Djatisunda, dari teater Uyeg Abah Ita Citepus Sukabumi, ini merupakan pertunjukan Uyeg sangat berbeda dengan genre teater rakyat lainnya. Hal itu disebabkan karena hadirnya tokoh sakral Sanghyang Raja Uyeg di panggung pertunjukan.

-Situs Museum Palagan Bojongkokosan
Selintas Museum
Site Museum Palagan Bojongkokosan merupakan kebanggaan bagi masyarakat Sukabumi, sebagai tanda peringatan dan rasa hormat pada para pahlawan yang gugur pada Peristiwa Bojongkokosan .Lokasinya berada di Jalan Siliwangi No. 75, Desa Bojongkokosan, Kecamatan Parungkuda dengan titikKoordinatnya 6 49' 42" S, 106.760452 E

Lokasi dan Lingkungan
Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar adalah sebuah kampung adat yang mempunyai ciri khas dalam lokasi dan bentuk rumah serta tradisi yang masih dipegang kuat oleh masyarakat pendukungnya.

-Angguk Rengkong
Angguk Rengkong yaitu alat pemikul padi yang di pergunakan pada pertunjukan Rengkong. Angguk Rengkong terbuat dari Awi Guluntungan (Bambu Gelondongan), terdapat hampir di setiap daerah di Tatar Sunda.

Legenda "Nyai Loro Kidul "
Inna Samudra Beach adalah satu dari 16 unit Inna Hotel Group dibawah naungan PT.Hotel Indonesia Natour,berlokasi di kota Palabuhanratu - Jawa Barat, tepatnya pada kawasan pantai Laut Selatan yang dipagari oleh pegunungan dengan koordinat 657,815'S 10630,428'E, hutan tropis dengan lintasan sungai-sungai yang menggambarkan sebuah keindahan alam yang memikat serta sarat akan budaya dan legenda.

Kesenian Dogdog Lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau Kesatuan Adat Banten Kidul yang tersebar disekitar Gunung Halimun (berbatasan dengan Sukabumi, Bogor dan Lebak). 

Secara administratif terletak di Kampung Tenjolaya Girang, Desa Cisaat, Kecamatan Cicurug. Situs ini terletak di lereng Gunung Salak di areal yang bergelombang. Secara astronomis terletak pada koordinat 6°45’09 LS dan 106°44’39” BT. Area situs dibatasi aliran Sungai Cisaat di sebelah timur, sebelah utara berupa lahan pertanian, pertemuan aliran Cileueur dan areal persawahan di sebelah barat, dan pertemuan aliran Sungai Cisaat serta dan Cileueur di sebelah selatan. Situs seluas .. ini dibatasi pagar kawat. Di wilayah tumbuh pohon bambu, laban, nangka, durian, damar, harendong, dan tanaman perdu seperti honje, salak, dan hanjuang. Untuk menuju ke situs, kendaraan roda dua dan empat hanya bisa mencapai di kampung terdekat, yaitu Kampung Tenjolaya. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki. Jalan setapak dan menanjak harus dilalui untuk mencapai situs ini. Tantangan lain adalah udara yang cukup dingin pada ketinggian situs mencapai 800-an m dari permukaan air laut. Situs Batu Kujang I dan II merupakan situs permukaan tanahnya miring makin ke utara makin tinggi. Di beberapa bagian lahan  dibatasi struktur batu sehingga lahan ini membentuk  punden berundak. Bentuk lahan yang demikian terbagi menjadi dua, bagian pertama yang terletak di bagian timur situs dan bagian barat dari situs. Kedua bagian itu dibatasi oleh tanggul batu.  

 Di tengah sejuknya udara setempat, Anda akan melihat sebuah situs yang dibatasi struktur batu sehingga lahan ini membentuk punden berundak. Bentuk lahannya terbagi menjadi dua, dengan bagian pertama yang terletak di bagian timur situs dan bagian kedua di bagian barat situs.


Kedua bagian itu dibatasi oleh tanggul batu.Di situs ini terdapat puluhan menhir yang berukuran cukup besar. Namun begitu, penemuan yang paling penting ada di teras keempat atau yang tertinggi, di mana terdapat struktur batu melingkar berdiameter 2 m yang di tengahnya terdapat menhir dengan bentuk menyerupai kujang setinggi 208 cm, yang oleh masyarakat setempat disebut Batu Kujang. Di sebelah timur batu kujang terdapat menhir berukuran tinggi 52 cm. Di teras ini pula terdapat batu alam berjajar.


Tinggalan lain di teras ini adalah batu jolang berukuran 180 cm x 107 cm dengan kedalaman lubang 14 cm.Yang lebih unik, di lokasi ini juga terdapat batu alam berukuran 180 cm x 75 cm yang oleh masyarakat disebut batu maya.Di area situs ditemukan sejumlah batu menhir dan dolmen yang tersebar di atas punden berundak. Di sisi selatan punden ini ditemukan struktur batu menyerupai anak tangga yang diduga sebagai jalan masuk utama ke kompleks pemujaan ini.Pada teras tertinggi, di atas struktur susunan batu melingkar berdiameter 6 m, terdapat menhir setinggi 2,08 m dengan ketebalan 17 cm. Menhir ini menyerupai kujang yang berdiri tegak dengan lebar bagian atas 8 cm, bagian tengah 66 cm, dan bagian bawah 44 cm.Sejumlah ahli arkeologi menduga bahwa tidak tertutup kemungkinan bahwa bentuk kujang yang kini menjadi senjata khas masyarakat Sunda diambil dari bentuk peninggalan ini.

Dugaan itu berdasarkan sejumlah peninggalan di sekitar Batu Kujang yang menyerupai senjata tajam masa kini seperti mata bajak, kapak, dan sabit.Dua teras di bawah Batu Kujang misalnya, terdapat tiga batu menhir berbentuk pipih dan tajam di bagian atas. Sebuah batu menhir setinggi 130 cm diapit oleh dua batu menhir yang masing-masing setinggi 53 cm dan 89 cm. Dari kejauhan, ketiga menhir ini berbentuk seperti mata trisula yang tertancap di sisi selatan punden.Kuatnya pengaruh legenda Prabu Siliwangi membuat masyarakat sekitar percaya bahwa Batu Kujang merupakan simbol dari tokoh legendaris itu. Bahkan, tempat ini disebut-sebut sebagai salah satu basis pertahanan Sang Prabu dengan patih dan prajuritnya. Meski demikian dalam penelitian arkeologi, di sekitar situs ini tidak ditemukan perkakas yang menandai adanya perkampungan pada masa itu.Hingga kini, keberadaan situs ini masih diteliti oleh Balai Arkeologi Bandung.

Berdasarkan penelitian, Situs Batu Kujang adalah satu dari puluhan situs peninggalan masa megalitik yang terserak di lereng perbukitan Gunung salak.Kisah..Dahulu kala, sekitar 80 M, di kaki gunung Salak bagian Utara tersebutlah sebuah padepokan yang dihuni oleh puluhan Resi. Selain tempat tinggal, padepokan itu juga menjadi tempat bagi para pembesar di kerajaan Paran Siliwangi (cikal bakal kerajaan Taruma Negara dan Padjajaran) meminta masukan dan nasehat tentang urusan kenegaraan.Peran para Resi jika diperbandingkan dengan kehidupan modern sekarang ini adalah seperti DPR. Ia menjalankan fungsi legislatif. Sedangkan yang menjalankan peran eksekutif adalah golongan pembesar yang biasa disebut Prabu. Ada satu lagi golongan yaitu Shanghyang. Para shanghyang adalah hakim yang menjalankan fungsi Yudikatif.Singkatnya; Prabu, Resi dan Shaghyang adalah gambaran awal trias politika yang dicetuskan Montesque.Suatu ketika, para Resi di kaki gunung Salak bagian utara kedatangan tamu agung pemimpin para Shanghyang, yaitu Shanghyang Nagandini. Sang Nagandini membawa tiga bayi mungil. Nagandini bermaksud menitipkan ketiga anaknya itu untuk dididik oleh para Resi yang bijaksana.


Para Resi menerima permintaan Nagandini dengan suka cita. Mereka pun membuat sebuah bak air dengan memahat batu untuk memandikan dan menyucikan ketiga anak itu. para Resi pun memberi nama ketiga anak itu; Taji Malela, Surya Kencana dan Balung Tunggal. Kelak ketiga anak itu akan menurunkan raja-raja yang berkuasa di tanah Sunda dalam naungan kerajaan Padjajaran.

Sementara Shanghyang Nagandini meninggalkan monumen pahatan Kudjang bagi ketiga anaknya. Kudjang adalah senjata khas rakyat Sunda yang mempunyai nilai filosofi transendental tinggi. Bahwa sebagian percaya bahwa bentuk Kudjang adalah pengejawantahan dari bentuk huruf Tuhan. Nilai filosofinya, siapa yang mencabut Kudjang maka dia akan ingat Tuhan dan urung menggunakan Kudjang sebagai senjata. Itulah mengapa Kudjang tidak pernah dikenal sebagai senjata, melainkan hanya sebuah status.

Batu Jolang adalah sebuah situs peninggalan nenek moyang orang Sunda dari tahun 80 M. Jolang berarti bak air (digunakan untuk memandikan ketiga bayi Nagandini). Sedangkan situs lainnya adalah tugu Kudjang yang dari bentuk pahatannya diperkirakan lebih tua dibandingkan dengan tugu Kudjang di situs Batu Tulis (Bogor).



Hingga kini, tidak banyak bukti historis yang bisa disajikan baik pemerintah (Dinas Pariwisata Sukabumi) maupun para arkeolog. Karena situs itu belum seksama ditelaah. Padahal melihat lokasinya, potensi situs itu sangat bagus untuk pariwisata. Belum lagi nilai filosofinya yang tinggi. Terbukti dari sepenggal cerita rakyat (folklore) di atas.

Ini Sukabumi - Sampai dengan tahun 1921 Sukabumi merupakan Kepatihan dari Kabupaten Cianjur. Pada tahun 1776 Bupati Cianjur yang ke enam yaitu Raden  Noh  (Wiratanudatar VI) mengangkat seorang patih yang membawahi distrik Gunungparang, distrik Cimahi, distrik Ciheulang, distrik Cicurug, distrik Jampangtengah, dan distrik Jampangkulon. Pusat pemerintahannya terletak di Cikole. Oleh karenanya kepatihan ini disebut kepatihan Cikole.

Dipilihnya Cikole sebagai pusat kepatihan, karena lokasi itu dipandang sangat strategis bagi komunikasi antara  Priangan dan Jakarta.  Selain itu, Cikole merupakan tempat yang nyaman untuk peristirahatan serta memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi, khususnya dibidang perkebunan.  Oleh karena itu, atas usul para pemimpin bumi putra, pada tanggal 8 Januari 1815 nama “ Cikole “ diubah menjadi “ SUKABUMI “ yang berarti “tempat yang disukai”. Kepatihan Cikole berubah menjadi kepatihan Sukabumi, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah Utara    :    Gunung Gede
Sebelah Selatan     :    Pantai Selatan
Sebelah Barat     :    Cigombong
Sebelah Timur     :    Gekbrong

Hari Jadi Kabupaten Sukabumi

Kepatihan Sukabumi ditetapkan sebagai Kabupaten Sukabumi terpisah dari Cianjur, berdasarkan besluit Gubernur Jendral tanggal 25 April 1921 Nomor 71, yang mulai berlaku pada tanggal 1 Juni 1921, sebagai bupati pertamanya diangkat patih yang terakhir, yaitu R.A.A. Soerianatabrata  yang terkenal dengan sebutan  Aom  Dolih  atau  Dalem  Gentong,  karena bertempat tinggal di kampung Gentong Kecamatan Sukaraja.

Bupati R.A.A. Soerianatabrata memerintah dari tahun 1921 sampai 1930. Pada masa pemerintahannya tepatnya pada tahun 1923, Residentie Preanger Regenschappen dipecah menjadi 3 (tiga) Keresidenan, yaitu West Priangan (Priangan Barat) yang berkedudukan di Sukabumi,  Midden Priangan (Priangan Tengah) yang berkedudukan di Bandung, dan Oost Priangan (Priangan Timur) yang berkedudukan di Tasikmalaya.

Bupati berikutnya adalah R.A.A. Soeriadanoeningrat, yang memerintah dari tahun 1930 sampai 1942. Pada masa pemerintahannya terjadi perubahan pembagian wilayah Jawa Barat ke dalam 5 (lima) Keresidenan, yaitu Keresidenan Banten, Keresidenan Batavia,  Keresidenan  Buitenzorg (Bogor), Keresidenan Priangan, dan Keresidenan Cirebon. Kabupaten Sukabumi termasuk Keresidenan Boitenzorg (Bogor).

Pada tahun 1942 bala tentara Jepang masuk ke Indonesia setelah menaklukan Belanda. Pemerintah Hindia Belanda menyerah pada tanggal 8 Maret 1942. Tanggal 5 Agustus 1942 panglima bala tentara dari Nippon mengeluarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1942 tentang Perubahan Tata Pemerintahan Daerah. Kabupaten disebut KEN dan dikepalai oleh KENCO. Desa disebut KU dan dipimpin oleh KUCO. Ken dan Ku  merupakan badan-badan yang berhak mengurusi rumah tangga sendiri (otonom). Sebagai Kenco Sukabumi yang pertama adalah  R.A.A. Soeriadanoeningrat, kemudian dilanjutkan oleh kenco yang kedua yaitu R. Tirta Soeyatna. Kedudukan Ken saat itu di jalan Cikole (jalan R. Syamsudin, SH  Nomor 54  sekarang) bekas kantor Regenschap/Kabupaten.

Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa, perjuangan bangsa Indonesia telah berhasil dengan  diproklamasikannya Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada tanggal 17  Agustus  1945. Kejadian-kejadian yang bersifat Nasional dengan cepat bergema dan menyebar pula di Sukabumi. Berita tentang Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia dengan cepat ditanggapi oleh para pejuang  Sukabumi. Para pejuang Sukabumi  khususnya yang sering berkumpul di jalan Cikiray 10b  beserta tokoh-tokoh Peta, pada tanggal 21 Agustus 1945 tanpa menghiraukan kekuatan persenjataan tentara Jepang, bergerak mengambil alih gedung  balai pertemuan umum, yang kemudian dijadikan markas Barisan Keamanan Rakyat (BKR), sekarang menjadi Gedung  Juang 45, serta mencetuskan kebulatan tekad untuk merebut kekuasaan dari tangan kekuasaan Jepang.

Untuk mengambil alih Pemerintahan Daerah dari tentara Jepang, para tokoh pejuang dan tokoh politik terkemuka antara lain  Mr. Samsoedin,  Dr. Abu Hanifah,  Mr. Haroen, serta para pejuang kemerdekaan kelompok Cikiray 10b, melaksanakan pertemuan/musyawarah, yang hasilnya disepakati : 
1.    Menetapakan langkah-langkah untuk membebaskan semua tahanan politik yang masih ditahan oleh  tentara jepang;
2.    Mengibarkan bendera Merah Putih diseluruh kantor/jawatan pemerintah;
3.    Mengganti kepala-kepala jawatan dan pimpinan instansi pemerintah yang masih diduduki orang-orang  Jepang oleh  Bangsa Indonesia;
4.    Mengutus delegasi ke keresidenan Boogor untuk mendesak residen (Syukocan) untuk melaksanakan serah terima kekuasaan dari tangan Jepang kepada Republik Indonesia. Delegasi ke Bogor terdiri dari Ajengan  Acun Basyoeni,  R.  Soekardi, dan R.  Emo Harja;
5.    Melaksanakan gerakan aksi massa, apabila usaha delegasi ke keresidenan Bogor gagal, aksi ditetapkan tanggal 1 Oktober 1945 dengan dipimpin oleh panitia lima,  yaitu :                                  
Sdr. Soeryana dari BKR
Sdr. Soekoyo dari Kepolisian
Sdr. S. Waluyo dari KNID
Sdr. Abdoerrohim  dari  alim  ulama
Sdr. Ali Basri dari utusan daerah.


Akhirnya pada hari Senin tanggal 1 Oktober 1945 ba’da sembahyang Subuh berbondong-bondong massa rakyat, berbaris teratur dengan perlengkapan seadanya (golok, bambu runcing, tongkat kayu, dan lain-lain) menyerbu Kota Sukabumi dari 4 penjuru, dibawah pimpinan pejuang masing-masing desa. Kumandang Takbir “Allahu Akbar“ dengan diselingi pekik “Merdeka” menggema di seluruh Kota Sukabumi. Massa rakyat berkumpul di gedung dan halaman markas  BKR, di lapangan Victoria (sekarang Gelanggang Merdeka  Sukabumi), di alun-alun depan Mesjid  Agung, di jalan-jalan sampai ke Pendopo Sukabumi. Mereka siap untuk mendengarkan laporan hasil delegasi ke keresidenan Bogor, serta siap menerima komando dari panitia 5 (lima) dengan semangat jiwa perjuangan yang tinggi.
Di dalam pidato laporannya kepada massa rakyat, Ajengan Acun Basyoeni menyatakan, bahwa serah terima pemerintahan dari tangan Jepang ke tangan Republik Indonesia baru dapat dilaksanakan sampai tingkat Keresidenan, sedangkan untuk di tingkat Kota dan Kabupaten pelaksanaannya ditangguhkan. Demikian pula keterangan dari sdr.  R.  Emo Harja menyatakan, bahwa perundingan dengan Syucokan di Bogor hasilnya gagal total. Menghadapi kenyataan demikian massa rakyat tidak bisa ditahan lagi dan secara spontan menyebar melaksanakan tugasnya masing-masing, yaitu :  
1.    mengurung kantor Kempetai (sekarang kantor Pelayanan Pajak dan kantor Badan Pertanahan Nasional), untuk membebaskan semua tahanan politik, diantaranya bapak  R. A. Kosasih  serta merampas seluruh senjata yang ada di sana;
2.    menurunkan bendera Jepang, kemudian menggantinya dengan mengibarkan bendera Merah Putih secara resmi di lapangan Victoria (sekarang lapang merdeka Sukabumi);
3.    merebut kekuasaan pemerintahan termasuk instansi lainnya, seperti Den Ki (PLN) , kantor telepon, kantor tambang emas Cikotok, kantor Barata, dan lain-lain. 

Dalam beberapa hari saja, dengan disemangati gerakan heroik tanggal 1 Oktober 1945 seluruh wilayah Kabupaten Sukabumi telah dapat dikuasai oleh Pemerintah Republik Indonesia.  Para pejabat Kewedanaan dan Kecamatan yang tidak sejiwa dengan para pejuang kemerdekaan kemudian diganti dengan tokoh–tokoh masyarakat yang berjiwa pejuang kemerdekaan dengan aspirasi masyarakat yang tercetus pada peristiwa 1 Oktober 1945, Mr. Haroen diangkat menjadi Bupati Sukabumi yang pertama dalam masa Kemerdekaan Republik Indonesia wilayah administrasi Pemerintahan Kabupaten Sukabumi pada saat itu meliputi wilayah Sukabumi Ken pada masa pemerintahan pendudukan Jepang. Tetapi peristilahan Jepang diganti ke dalam sebutan Indonesia, seperti Ken, Gun, Son, dan Ku, dirobah menjadi  Kabupaten, Kewedanaan, Kecamatan, dan Desa.

Demikian sekilas mengenai sejarah perjuangan rakyat Sukabumi mengambil alih kekuasaan pemerintahan daerah dari tangan pemerintah Jepang, sehingga  tanggal 1 Oktober 1945 ditetapkan sebagai  Hari  Jadi Kabupaten Sukabumi.***

Sasakala Pantai Minajaya

Tepatnya sebelah selatan dari arah Surade merupakan tempat pariwisata yang berada di Kecamatan Surade. Pantainya subur dengan rumput laut yang melimpah sehingga bisa memberikan penghidupan bagi masyarakat sekitar. Selain itu pantai Minajaya kaya akan ikan laut.
 
Pantai Minajaya merupakan tempat rekreasi warga masyarakat Surade dan sekitarnya bahkan dari luar kota Sukabumi maupun mancanegara. Pantainya indah dan rindang dengan tumbuhnya pepohonan di pinggir pantai. Panoramanya sangat indah sekali terutama pada saat sore hari. Kita bisa melihat Sunset yang menghias pantai minajaya. Semilir angin pantai begitu nikmat, hingga kalau kita duduk di tenda-tenda yang tersedia tanpa terasa sering tertidur lelap. Pesisir pantainya memang hampar, ombaknya tidak besar sehingga anak-anak kecil dengan bebas bisa mandi sepuas-puasnya tanpa ada rasa kekhawatiran. Di sana terdapat mata air. Masyarakatnya begitu bersahabat. Kita bisa memesan nasi dan ikan bakar dengan harga yang sangat murah.

Pantai Minajaya semula bernama Pantai Kutamara. Sejak tahun 1964 berubah menjadi Pantai Minajaya yang diberikan oleh sebuah pasukan pramuka. Adapun sejarahnya sebagai berikut :

Tanggal 12 April 1964 warga masyarakat pantai Kutamara dikejutkan dengan kedatangan sebuah kapal besar yang menyeruak ombak pantai menuju ke pesisir. Suara pluit panjang tiada henti-hentinya berbunyi. Menambah ketakutan masyarakat yang ada di sana saat itu. Apalagi setelah kapal merapat ke pantai yang disusul dengan turunnya para awak kapal yang membawa jangkar. Masyarakat yang ada di pantai Kutamara kocar kacir mencari perlindungan. Mereka menyangka bahwa kapal itu kapal perang Malaysia yang sengaja menyerang dari arah selatan. Berita itu langsung tersebar ke seluruh wilayah Surade, Ciracap dan Jampangkulon.

Mendengar kejadian itu kepala Desa Pasiripis Bapak Yahya Cholil melaporkan kedatangan kapal tersebut ke kantor kecamatan, Polisi dan BODM (sekarang Koramil). Semua instansi dan lembaga disibukkan atas kejadian itu. Terutama BODM sebagai Tentara Darat yang harus siap setiap saat mempertaruhkan harta dan nyawa demi negara Indonesia.

Pemerintah Kecamatan Ciracap yang saat itu pemerintahannya dijabat oleh Bapak Adeng segera melaporkan kejadian tersebut kepada Bupati Sukabumi, Bapak Kudi. Pada saat itu kantor pemerintahan kecamatan Ciracap berada di Surade tepatnya di prapatan arah  Lapang Lodaya Setra (sekarang Bunderan Surade) dekat Mesjid kaum Al-Jalil. Para upas dan para pemimpin disemua tingkatan berusaha menenangkan rakyat. Sedangkan Juru Penerangan Bapak Jahid, menyarankan agar setiap mesjid mengadakan doa bersama supaya masyarakat Surade selamat dan selalu hati-hati terhadap serangan Malaysia.

Begitu juga dengan kepolisian Sektor Ciracap yang dikomando oleh Bapak Juhro bersiap siaga dan segera melaporkan hal tersebut ke Kapolres Sukabumi. Tidak hanya itu semua guru pun berkumpul untuk ikut menjaga stabilitas keamanan, karena takut terjadi hal-hal yang tidak diharapkan. Di bawah komando Bapak Saleh Somapraja mereka bertindak. Begitu juga dengan TNI-AURI dengan PGT (Pasukan Gerak Tjepat) nya di bawah komando Bapak AULADI siap siaga untuk menjaga segala kemungkinan yang terjadi. Semua masyarakat Surade menyangka bahwa kapal tersebut kapal musuh dari Malaysia. Semua warga siap siaga dengan segala macam peralatan yang ada. Mulai dari para pemuda, orang tua bahkan pejuang veteran siap bertempur melawan Malaysia.  Karena pada saat itu sedang terjadi konfrontasi antara negara Indonesia dengan negara Malaysia memperebutkan Irian Jaya dari tangan Belanda.

Berkat kesigapan dan kerja keras pasukan TNI-AU dan TNI-AD (BODM) dapat diketahui bahwa kapal yang datang tersebut kapal ikan yang kehabisan bahan bakar di tengah laut sehingga terombang-ambing dan terdampar ke pesisir pantai Kutamara.

Tiga hari kemudian setelah pemberitahuan dari pemerintah setempat, masyarakat Surade dan sekitarnya datang ke pantai Kutamara untuk menyaksikan sendiri kapal tersebut. Ternyata benar kapal tersebut terdampar pada sebuah karang kurang lebih 300 meter dari pesisir pantai. Pada badan kapal tertulis Minajaya 2. Sehingga tanpa disadari dan peresmian yang syah dari pemerintah pengakuan Minajaya bagi pantai Kutamara terjadi akibat sering terucap dan teringat nama Minajaya.

Seminggu kemudian, tepatnya hari Minggu, 19 April 1964, guru, murid bersama rombongan Gerakan Kepanduan (Gerakan Pramuka) datang ke pantai Kutamara untuk melihat kapal yang karam tersebut. Gerakan Pramuka dibawah pimpinan Bapak Munadi, kemudian menulis pada papan kayu dengan menggunakan cat meni berwarna merah. Di samping papan kayu tersebut ditanam 3 (tiga) macam kelapa, yaitu kelapa hijau, kelapa merah dan kelapa gading (putih kekuning-kuningan). Tulisan tersebut berbunyi : 
Dengan karamnya kapal Minjaya tanggal 12 April 1964
 di pesisir pantai ini,
 maka sejak peristiwa itu kami abadikan kau
di pantai ini dengan nama
"PANTAI MINJAYA"
Kapal Minajaya yang terdampar di pantai Kutamara tidak bisa bertahan lama karena semua isi dan peralatan penting segera diamankan dan langsung diangkat ke Jakarta untuk dikembalikan pada empunya. Sedangkan jasad kapal tersebut oleh masyarakat dibiarkan bahkan sampai lenyapnya pun tidak ada yang bertanggung jawab atasnya. Sampai sekarang pantai Minajaya menjadi tempat yang mengesankan bagi masyarakat.

Sumber: http://baladaka.org/sejarah-wisata/41-sasakala-pantai-minajaya.html

For the English language version, please click here

Asal Mula Sukabumi-Orang selalu mencatat bahwa tanggal 13 Januari 1815 adalah hari kelahiran kota Sukabumi. Tanggal tersebut dipergunakan sejak Dr. Andreas de Wilde secara resmi menerima pengesahan nama Soeka Boemi dari pemerintah Hindia Belanda atas tanah yang dimohonnya untuk perluasan perkebunan. Kala itu de Wilde adalah konlomerat perkebunan, atau lebih dikenal dengan Preanger Planter. Anda bisa membayangkan betapa kaya dan berpengaruhnya de Wilde dengan melihat rumahnya yang sekarang dijadikan kantor Walikota (Balaikota) Bandung.

Sejarah Sukabumi

Sejarah Sukabumi
Dokumen tentang Andries de Wilde yang membeli tanah di Goenoeng Parang (kelak menjadi Soekaboemi) seharga 6153 Ringgit Spanyol tahun 1803 - sumber Algemeen Handelsblad 1923Dari:Koleksi Foto dari kiriman Rangga Pamungkas di SOEKABOEMI HERITAGES

Tapi benarkah de Wilde yang menemukan Sukabumi?  Sebenarnya, tidak juga. Sejarah Sukabumi lebih tua dari itu. Anda bisa melacaknya hingga Pajajaran Runtag ( runtuhnya Kerajaan Pajajaran ) sekitar 1579. Waktu itu wilayah ini bagian dari kedatuan (setara kabupaten sekarang) kerajaan Pajajaran. Tepatnya Kedatuan Pamingkis yang beribukota di Gunung Walat, Cibadak sekarang. Jangan heran kalau Cibadak dijadikan dayeuh waktu itu. Di Cibadak ini telah berdiri sebuah kabuyutan yang diprakarsai Prabu Dharmasiksa jamannya kerajaan Sunda Galuh Kuno. Lihat tulisan mengenai prasasti Cicatih Cibadak di blog ini.

Nah, bupati yang berkuasa saat itu adalah Ki Ranggah Bitung. Istrinya bernama Nyi Raden Puntang Mayang. Masa masa itu memang tidak menentu. Ibukota Pakuan telah berhasil direbut kesultanan Banten. Uforia bumi hangus sampai juga ke Kedatuan Pamingkis. Singkat cerita Gunung walat bernasib sama dengan Pakuan. Bupati Ki Ranggah Bitung gugur. Sementara istrinya yang sedang hamil diselamatkan oleh seorang jaro (lurah) bernama Ki Load Kutud dan istrinya Nini Tumpay Ranggeuy Ringsang. Mula mula diamankan di Gunung Bongkok, Cibadak. Atas petunjuk seorang resi bernama Tutung Windu, kemudian dialihkan ke Gunung Sunda di daerah Palabuhanratu sekarang.

Kala itu wilayah selatan masih berupa hutan rimba belantara. Tidak heran bila daerah tersebut menjadi tempat persembunyian yang sempurna buat Nyi Raden Puntang Mayang. Di tengah pengungsian, mereka menemukan seorang bocah laki laki berumur 6 -7 tahun yang tersesat. Menurut pengakuaannya, kampungnya sama dibakar oleh pasukan Banten. Didorong rasa kasihan maka Jaro Kutud akhirnya memunggut anak tersebut dan menyertakannya dalam rombongan pengungsi. Mereka akhirnya tiba di tempat tujuan. Tak lama Nyi Raden Puntang Mayang melahirkan bayi perempuan. Kemudian diberi nama Nyai Raden Pundak Arum Saloyang.

(bersambung)

Diberdayakan oleh Blogger.